BAB I
PENDAHULAN
Latar Belakang Masalah
Perkembangan penelitian di bidang bioenergi, bukanlah barang baru di Indonesia. Penjajakan peluang aplikasi bioenergi untuk di industrialisasi telah lama dikembangkan, dan sekarang telah memasuki tahapan produksi secara massal dan siap di komersialisasikan. Diharapkan dalam beberapa tahun mendatang, bioenergi akan menjadi alternatif dan mampu bersaing dengan minyak dan Gas Bumi (Migas) dalam mempertahankan ketahanan energi di Indonesia. Boienergi merupakan salah satu energi terbarukan yang sangat mungkin dikembangkan.
Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah, mempunyai potensi untuk menjadi lumbung Bioenergi dunia. Potensi yang benar-benar tidak dapat diabaikan adalah tersedianya lahan yang luas untuk membudidayakan tanaman-tanaman yang potensial sebagai sumber bahan baku bioenergi. Salah satu bioenergi yang bisa dikembangkan adalah buah blimbing wuluh dengan rasa yang sangat asam dengan warna hijau dan bentuk yang kecil sangat banyak dan mudah ditemui. Penanaman buah blimbing wuluh sangat mudah perawatannya dan pengembangannya, serta harganyapun sangat murah. Dalam penempatannya sebagai sumbar energi listrik proses rangkaiannya sangat mudah dan murah. Yaitu blimbing diblender atau diparut kemudian ditiriskan untuk diambil airnya, setelah itu dimasukan kedalam gelas plastik yang sudah dimasukkan tanah liat, kemudian tancapkan 2 buah elektroda tembaga dan seng, dan sambungkan kedua ujung elektoroda dengan kabel ke lampu, dan lampunyapun akan menyala. Sangat praktis dan sederhana.
Rumusan Masalah
Berapa campuran antara tanah liat dengan blimbing wuluh agar dapat menghasilkan energi listrik.
Berapa banyak blimbing wuluh yang dibutuhkan pada rangkaian untuk menghasilkan energi listrik.
Bagaimana bentuk rangkain listriknya.
Batasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pembahasan, maka penulis perlu membatasi masalah yang diteliti yaitu air buah blimbing wuluh, tanah liat warna merah dan putih, ukuran lempengan plat Tembaga dan lempengan plat Seng, senyawa kimia, kemudian besarnya energi listrik yang dihasilkan.
Tujuan
Untuk memanfaatkan buah blimbing wuluh sebagai sumber energi listrik.
Untuk mengetahui besarnya energi listrik yang dapat dibangkitkan.
Untuk mengetahui komposisi blimbing wuluh dan tanah liat yang ideal.
Untuk mengetahui rangkaian listrik yang benar.
BAB II
LANDASAN TEORI
Energi
Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan serta merupakan pendukung bagi kegiatan ekonomi nasional. Penggunaan energi di Indonesia meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Sedangkan akses ke energi yang andal dan terjangkau merupakan prasyarat utama untuk meningkatkan standar hidup masyarakat. Dua pertiga dari total kebutuhan energi nasional berasal dari energi komersial dan sisanya berasal dari biomassa yang digunakan secara tradisional (non-komersial). Dalam ilmu fisika energi terbagi dalam berbagai macam/jenis, antara lain : energi potensial, energi kinetik/kinetis, energi panas, energi listrik, energi matahari, energi angin, energi kimia, energi nuklir, energi gas bumi, energi ombak dan gelombang, energi minyak bumi, energi mekanik/mekanis, energi cahaya, dan lain sebagainya
Energi listrik adalah energi akhir yang dibutuhkan bagi peralatan listrik untuk menggerakkan motor, lampu penerangan, memanaskan, mendinginkan ataupun untuk menggerakkan kembali suatu peralatan mekanik untuk menghasilkan bentuk energi yang lain. Energi yang dihasilkan ini dapat berasal dari berbagai sumber misalnya, air, minyak, batu bara, angin, panas bumi, nuklir, matahari dan lainnya. Energi ini besarnya dari beberapa volt sampai ribuan hingga jutaan volt.
Blimbing Wuluh
Belimbing Sayur, Belimbing Wuluh, Belimbing Buluh, atau Belimbing Asam adalah sejenis pohon kecil yang diperkirakan berasal dari Kepulauan Maluku, dan dikembangbiakkan serta tumbuh bebas di Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan Myanmar. Tumbuhan ini biasa ditanam di pekarangan untuk diambil buahnya. Buahnya yang memiliki rasa asam sering digunakan sebagai bumbu masakan dan campuran ramuan jamu.
Sifat Asam
Kita tahu bahwa cairan yang digunakan dalam sebuah Akumulator adalah cairan yang mengandung tingkat keasaman tinggi. Cairan Akumulator yang biasanya digunakan adalah Asam Sulfat encer (H2SO4). Pada umumnya, bila Akumulator terus menerus digunakan, aliran Akumulator akan habis dan Akumulator tidak dapat berfungsi kembali. Artinya kita harus mengecas kembali Akumulator agar Akumulator dapat berfungsi kembali. Selain itu saat ini harga aki relatif mahal, oleh karena itu banyak yang mencoba menggunakan alternatif lain untuk mengganti cairan aki. Saat ini, penelitian mengenai energi alternatif lebih dititik beratkan kepada energi alternatif yang menggunakan bahan-bahan alami dan bersumber dari alam. Elektrolit dalam Batu Baterai bersifat asam, sehingga buah yang bersifat asam dapat menjadi Elektrolit.
Khasiat Dari Buah Belimbing Wuluh
Adapun khasiat dari Belimbing Wuluh dapat menyembuhkan beberapa penyakit, antara lain sebagai berikut :
Jerawat
Tekanan Darah Tinggi
Obat Batuk
Diabetes
Gondongan
Rematik
Pegal Linu
Panu
Selain itu yang tidak kalah pentingnya bahwa buah blimbing wuluh dapat menghasilkan energi listrik.
Tanah Liat
Lempung atau Tanah Liat ialah kata umum untuk partikel mineral berkerangka dasar silikat yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Lempung mengandung leburan Silika dan Aluminium yang halus. Unsur-unsur ini, Silikon, Oksigen, dan Aluminum adalah unsur yang paling banyak menyusun kerak bumi. Lempung terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh Asam Karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi.
Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila basah terkena air. Sifat ini ditentukan oleh jenis Mineral Lempung yang mendominasinya. Mineral Lempung digolongkan berdasarkan susunan lapisan Oksida Silikon dan oksida Aluminium yang membentuk kristalnya. Golongan 1 memiliki lapisan satu Oksida Silikon dan satu Oksida Aluminium, sementara golongan 2 memiliki dua lapis golongan Oksida Silikon dan satu lapis Oksida Aluminium. Mineral Lempung golongan 2 memiliki sifat elastis yang kuat, menyusut saat kering dan membesar saat basah. Karena perilaku inilah beberapa jenis tanah dapat membentuk kerutan-kerutan atau "pecah-pecah" bila kering.
Tembaga
Tembaga adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cu dan nomor Atom 29. Lambangnya berasal dari bahasa Latin Cuprum. Tembaga merupakan konduktor panas dan listrik yang baik.Selain itu unsur ini memiliki Korosi yang lambat sekali.
Sifat-Sifat
Tembaga memiliki warna kemerah-merahan. Unsur ini sangat mudah dibentuk, lunak, dan merupakan konduktor yang bagus untuk aliran Elektron (kedua setelah Perak dalam hal ini).
Kegunaan
Industri elektrik merupakan konsumen terbesar unsur ini. Campuran logam besi yang memakai Tembaga seperti Brass dan Perunggu sangat penting. Semua koin-koin di Amerika dan logam-logam senjata mengandung Tembaga. Tembaga memiliki kegunaan yang luas sebagai racun pertanian dan sebagai Algisida dalam pemurnian air. Senyawa-senyawa Tembaga seperti solusi Fehling banyak digunakan di bidang kimia analitik untuk tes gula.
Seng
Seng (bahasa Belanda: Zink) adalah unsur kimia dengan lambang kimia Zn, nomor Atom 30, dan massa Atom relatif 65,39. Ia merupakan unsur pertama golongan 2B pada tabel periodik. Beberapa aspek kimiawi Seng mirip dengan Magnesium. Hal ini dikarenakan ion kedua unsur ini berukuran hampir sama. Selain itu, keduanya juga memiliki Keadaan Oksidasi +2. Seng merupakan unsur paling melimpah ke-24 di kerak Bumi dan memiliki lima isotop stabil. Bijih Seng yang paling banyak ditambang adalah Sfalerit (Seng Sulfida).
Seng merupakan zat mineral esensial yang sangat penting bagi tubuh. Terdapat sekitar dua milyar orang di negara-negara berkembang yang kekurangan asupan Seng. Defisiensi ini juga dapat menyebabkan banyak penyakit. Pada anak-anak, defisiensi ini menyebabkan gangguan pertumbuhan, mempengaruhi pematangan seksual, mudah terkena infeksi, Diare, dan setiap tahunnya menyebabkan kematian sekitar 800.000 anak-anak di seluruh dunia. Konsumsi Seng yang berlebihan dapat menyebabkan Ataksia, lemah lesu, dan defisiensi Tembaga.
Sifat sifat fisik
Seng merupakan logam yang berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifat Diamagnetik. Walau demikian, kebanyakan Seng mutu komersial tidak berkilau. Seng sedikit kurang padat daripada besi dan berstruktur kristal Heksagonal.
Logam ini keras dan rapuh pada kebanyakan suhu, namun menjadi dapat ditempa antara 100 oC sampai dengan 150 °C. Di atas 210 °C, logam ini kembali menjadi rapuh dan dapat dihancurkan menjadi bubuk dengan memukul-mukulnya. Seng juga mampu menghantarkan listrik. Dibandingkan dengan logam-logam lainnya, Seng memiliki titik lebur (420 °C) dan tidik didih (900 °C) yang relatif rendah. Dan sebenarnya pun, titik lebur Seng merupakan yang terendah di antara semua logam-logam transisi selain Raksa dan Kadmium.
Terdapat banyak sekali aloi yang mengandung Seng. Salah satu contohnya adalah Kuningan (aloi Seng dan Tembaga). Logam-logam lainnya yang juga diketahui dapat membentuk aloi dengan Seng adalah Aluminium, Antimon, Bismut, Emas, Besi, Timbal, Raksa, Perak, Timah, Magnesium, Kobalt, Nikel, Telurium, dan Natrium. Walaupun Seng maupun Zirkonium tidak bersifat Feromagnetik, aloi ZrZn2 memperlihatkan Feromagnetisme di bawah suhu 35 K.
Sifat kimiawi
Seng memiliki Konfigurasi Elektron [Ar]3d104s2 dan merupakan unsur golongan 2B Tabel Periodik. Seng cukup reaktif dan merupakan Reduktor kuat. Permukaan logam Seng murni akan dengan cepat mengusam, membentuk lapisan Seng karbonat, Zn5(OH)6CO3, seketika berkontak dengan Karbondioksida. Lapisan ini membantu mencegah reaksi lebih lanjut dengan udara dan air.
Seng yang dibakar akan menghasilkan lidah api berwarna hijau kebiruan dan mengeluarkan asap Seng oksida. Seng bereaksi dengan asam, basa, dan non-logam lainnya. Seng yang sangat murni hanya akan bereaksi secara lambat dengan asam pada suhu kamar. Asam kuat seperti asam klorida maupun asam sulfat dapat menghilangkan lapisan pelindung Seng karbonat dan reaksi Seng dengan air yang ada akan melepaskan gas Hidrogen.
Seng secara umum memiliki keadaan oksidasi +2. Ketika senyawa dengan keadaan oksidasi +2 terbentuk, Elektron pada kelopak Elektron terluar s akan terlepas, dan ion Seng yang terbentuk akan memiliki konfigurasi [Ar]3d10. Hal ini mengijinkan pembentukan empat ikatan kovalen dengan menerima empat pasangan Elektron dan mematuhi kaidah oktet. Stereokimia senyawa yang dibentuk ini adalah tetrahedral dan ikatan yang terbentuk dapat dikatakan sebagai sp3. Pada larutan akuatik, kompleks oktaherdal, [Zn(H2O)6]2+, merupakan spesi yang dominan. Penguapan Seng yang dikombinasikan dengan Seng klorida pada temperatur di atas 285 °C mengindikasikan adanya Zn2Cl2 yang terbentuk, yakni senyawa Seng yang berkeadaan oksidasi +1. Tiada senyawa Seng berkeadaan oksidasi selain +1 dan +2 yang diketahui. Perhitungan teoritis mengindikasikan bahwa senyawa Seng dengan keadaan oksidasi +4 sangatlah tidak memungkinkan terbentuk.
Sifat kimiawi Seng mirip dengan logam-logam transisi periode pertama seperti nikel dan Tembaga. Ia bersifat diamagnetik dan hampir tak berwarna. Jari-jari ion Seng dan Magnesium juga hampir identik. Oleh karenanya, garam kedua senyawa ini akan memiliki struktur kristal yang sama. Pada kasus di mana jari-jari ion merupakan faktor penentu, sifat-sifat kimiawi keduanya akan sangat mirip. Seng cenderung membentuk ikatan kovalen berderajat tinggi. Ia juga akan membentuk senyawa kompleks dengan pendonor N- dan S-. Senyawa kompleks Seng kebanyakan berkoordinasi 4 ataupun 6 walaupun koordinasi 5 juga diketahui ada.
Reaksi Redoks
Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) Atom-Atom dalam sebuah reaksi kimia. Istilah Redoks berasal dari dua konsep, yaitu Reduksi dan Oksidasi. Ia dapat dijelaskan dengan mudah sebagai berikut :
Oksidasi menjelaskan pelepasan Elektron oleh sebuah Molekul, Atom, atau Ion
Reduksi menjelaskan penambahan Elektron oleh sebuah Molekul, Atom, atau Ion.
Pada reaksi ini Atom Zn sebelum reaksi mempunyai bilangann oksidasi nol setelah reaksi berubah menjadi 2+. Begitu juga ion Cu²+ mengalami perubahan dari 2+ sebelum reaksi menjadi nol setelah reaksi selesai. Akibat pelepasan Elektron yang bermuatan negative ini Atom Zn dengan bilangan oksidasi nol berubah menjadi ion yang bermuatan 2+ dan masuk ke dalam larutan. Ion Tembaga yang punya bilangan oksidasi 2+ setelah menerima Elektron (dari Zn) berubah menjadi Atom Cu yang biloknya sama dengan nol. Atom Cu yang terbentuk menempel pada permukaan logam Seng.
Oksidasi berlangsung 2 hal :
Pelepasan Elektron
Penaikan bilangan oksidasi
Reduksi berlangsung 2 hal :
Pengambilan Elektron
Penurunan bilangan oksidasi
Reaksi oksodasi selalu sejalan dengan reaksi reduksi, Reaksi Oksidasi tidak akan berlangsung bila tidak ada Reaksi Reduksi yang bias menerima Elektron dari Reaksi Oksidasi tadi. Gabungan dari reaksi oksidasi dan reduksi ini disebut reaksi reduksi-oksidai atau reaksi redoks. Kalau reaksi redoks sebagai 1 kesatuan reaksi, maka Reaksi Oksidasi dan reduksinya disebut ½ Reaksi Oksidasi dan ½ reaksi reduksi.
Berikut merupakan reaksi redoks Atom Zn dan ion Cu :
Zn + Cu2+ Zn2+ + Cu
½ oksidasi : Zn Zn2+ + 2e-
½ reduksi : Cu2+ + 2e- Cu
Gambar Rangkaian
Gambar 1. Rangkaian listrik dengan blimbing wuluh
Kerterangan :
Kabel
Tembaga
Seng
Gelas plastik
Campuran air blimbing wuluh dan tanah liat
lampu
Prinsip Kerja Rangkaian Listrik.
Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam pembentukan rangkain ini, antara lain :
Elektrodanya harus dari bahan penghantar listrik.
Kedua macam elektrodanya harus dari bahan yang berbeda.
Elektrolitnya harus mengandung asam,basa atau garam,sehingga larutan itu merupakan penghantar listrik.
Daya listrik yang di hasilkan dapat di perbesar degan jalan menambah jumlah gelas.
Adapun proses kerja dari rangkain ini adalah Apabila 2 elektroda yang terdiri dari plat Tembaga (Cu) sebagai Anoda dan plat Seng (Zn) sebagai katoda ditancapkan dalam tanah yang sudah dicampur dengan air blimbing wuluh, Gerakan Elektron yang mengalir di dalam campuran tersebut akan memisahkan ion-ion itu secara kimiawi menjadi dua yaitu menjadi ion-ion positip (H+) dan ion-ion negatip (So4-) yang mempunyai kelebihan Elektron-Elektron, pemisahan ini di sebut dengan elektrolise. Selanjutnya ion-ion (H+) menuju batang Tembaga (Cu), memberi isi positip pada batang Tembaga itu. - kemudian ion-ion negatip (SO4-) bergerak menuju batang Seng dan memberi isi negatip pada batang Seng tersebut. Proses kimia yang terjadi di dalam campuran menghasilkan suatu tegangan listrik antara Tembaga dan Seng, bila kedua plat di hubungkan dengan kawat, mengalirlah arus dari positip [+] ke negatip [-]. Dari peristiwa ini ternyata Elektron-Elekton bergerak dari Katoda ke Anoda di luar cairan kemudian diangkut kembali ke Katoda di dalam cairan hal ini di sebabkan adanya Gaya Gerak Listrik (GGL) yang di hasilkan di dalam rendaman Elektrolit tersebut, timbulnya GGL di sebabkan bekerjanya kekuatan dari dalam yang ada di antara ke dua Elektroda itu sendiri, selama GGL masih cukup kuat belum menjadi lemah untuk mendorong Elektron-Elektron pada penghantar selama itu pula arus listrik akan berlangsung terus.
Kuat Arus
Untuk mengetahui besarnya kuat arus dapat dihitung dengan rumus :
I=V/R
Dimana :
I = Kuat Arus (A)
R = Hambatan (Ω)
V = Tegangan (V)
Daya Listrik
Daya listrik didefinisikan sebagai laju hantaran energi listrik dalam sirkuit listrik. Satuan SI daya listrik adalah Watt yang menyatakan banyaknya tenaga listrik yang mengalir per satuan waktu (joule/detik).
Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian dengan hambatan listrik menimbulkan kerja. Peranti mengkonversi kerja ini ke dalam berbagai bentuk yang berguna, seperti panas (seperti pada pemanas listrik), cahaya (seperti pada bola lampu), energi kinetik (motor listrik), dan suara (loudspeaker). Listrik dapat diperoleh dari pembangkit listrik atau penyimpan energi seperti baterai.
Untuk mencari daya listrik dapat dihitung dengan rumus :
P = V.I
Dimana :
P = Daya (W)
V = Tegangan (V)
I = Kuat arus (A)
BAB III
Metode Penelitian
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di laboraturium terpadu jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro, tepatnya pada tanggal 4-5 oktober 2010.
Bahan dan Alat yang Digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam rangkaian ini antara lain adalah sebagai berikut :
Lempengan Seng = 6 buah, dengan ukuran 10 cm x 4 cm.
Lempengan tembaga = 6 buah, dengan ukuran 10 cm x 4 cm
Gelas plastik = 6 buah, (volume 23 cm3)
Tanah liat = 0,96 kg
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Neraca = 1 buah
Mulytester = 1 buah
Lampu = 1 buah, tegangan 3 V
Blender = 1buah
Kabel = 7 potong, masing-masing panjang 15 cm
Prosedur Pembuatan Alat.
Blender Blimbing Wuluh sampai halus (jus belimbing wuluh).
Siapkan gelas plastik dan diisi dengan tanah liat (bukan tanah berpasir ataupun yang mengandung sampah).
Masukan jus Blimbing Wuluh tersebut ke dalam gelas plastik yang sudah diisi tanah.
Susun berderet gelas yang sudah diisi tanah dan jus blimbing wuluh.
Buat rangkaian elektroda dengan menyambungkan antara lempeng Tembaga dan lempeng Seng menggunakan kabel 15 cm.
Susun rangkaian elektroda tersebut ke dalam gelas-gelas tanah yang telah disiapkan sebelumnya, dengan susunan lempeng Tembaga-lempeng Seng-lempeng Tembaga dan begitu seterusnya, jadi satu gelas akan berisi susunan satu lempeng Tembaga dan satu lempeng Seng dari rangkaian elektroda yang berbeda.
Siapkan dua rangkaian elektroda dengan kabel yang lebih panjang dan hanya menggunakan satu lempeng saja, satu Tembaga dan satu Seng. Untuk gelas terluar (gelas pertama dan terakhir yang hanya memiliki satu lempeng: gelas pertama lempeng Tembaga dan gelas terakhir lempeng Seng) disambungkan dengan rangkaian elektroda baru ini. Gelas pertama dengan yang rangkaian Seng, gelas terakhir disambungkan dengan rangkaian Tembaga. Ujung dari dua kabel rangkaian terakhir inilah yang akan disambungkan dengan multytester (alat pengukur tegangan listrik/kuat arus).
Prosedur Pengujian Alat.
Setelah alat dirakit maka rangkaian siap untuk dilakukan pengujian. Untuk mendapatkan hasil yang berbeda maka pada setiap pengujian jumlah gelas yang diukur harus berbeda pula, misalnya pengujian pertama jumlah gelas yang diukur 2 buah, kemudian selanjutnya 4 buah dan seterusnya. Perlu diingat sebelum pengujian dilakukan maka campuran tanah liat dan air blimbing wuluh harus didiamkan 5 menit agar kedua bahan dapat mencampur dan bereaksi dengan sempurna. Pengujian rangkaian dapat diketahui dengan menggunakan multytester atau menggunakan bola lampu.
Flow Chat/Alur Kerja
BAB IV
HASIL DAN ANALISA
Hasil
Pengujian Pertama
Pada pengujian ini komposisi massa Blimbing Wuluh/gelas setelah di blender = 0,1 kg dan massa tanah liat/gelas = 0,15 kg.
Setelah pengujian diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil pengukuran pengujian 1 menggunakan tanah liat merah.
No. Jumlah Gelas (buah) Daya (V.mA)
2 40
4 85
6 130
8 175
10 215
12 260
Kemudian dengan komposis massa yang sama tetapi menggunakan tanah liat warna putih diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 2. Hasil pengukuran pengujian 1
No. Jumlah Gelas (buah) Daya (V.mA)
1. 2 50
2. 4 98
3. 6 145
4. 8 195
5. 10 250
6. 12 295
Gambar 2. Rangkaian listrik untuk 2 gelas dan 4 gelas
Pengujian kedua
Pada pengujian kedua ini menggunakan variabel massa blimbing wuluh yang berbeda – beda tetapi massa tanah liat yang sama, yaitu 0,1 kg. dengan jumlah gelas 2 buah. dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 3 hasil pengukuran pengujian 2
No. Massa blimbing wuluh (kg) Daya (V.mA)
1. 0,0125 30
2. 0,025 35
3. 0,05 40
4. 0,1 40
5. 0,2 40
6. 0,4 35
7. 0,8 30
Pengujian Ketiga.
Pada pengujian ketiga ini menggunakan variabel massa tanah liat yang berbeda – beda tetapi massa blimbing wuluh yang sama, yaitu 0,1 kg. dengan jumlah gelas 2 buah. dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Table 4. hasil pengukuran pengujian ke 3
No. Massa tanah liat (kg) Daya (V.mA)
1. 0,0125 35
2. 0,025 35
3. 0,05 40
4. 0,1 40
5. 0,2 40
6. 0,4 35
7. 0,8 35
Pengujian Keempat.
Komposisi massa Blimbing Wuluh/gelas sesudah di blender
= 0,05 kg.
Massa tanah liat/gelas = 0,15 kg
Dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 5. Hasil pengukuran pengujian 4 menggunakan tanah liat putih.
No. Jumlah Gelas (buah) Daya (V.mA)
2 40
4 70
6 95
8 125
10 160
12 190
Pengujian Kelima
komposisi massa Blimbing Wuluh/gelas setelah di blender
= 0,1 kg
Massa tanah liat/gelas = 0,1 kg
Dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 6. Hasil pengukuran pengujian 5 menggunakan tanah liat putih.
No. Jumlah Gelas (buah) Daya (V.mA)
2 30
4 65
6 100
8 135
10 165
12 200
Pengujian Keenam
Pada hari ke-2 rangkaian pengujian pertama yang menggunakan tanah liat putih diukur ulang dengan beban 1 buah lampu tegangan 3 (V) tanpa dimatikan. Hasilnya sebagai berikut :
Tabel 7. Hasil pengukuran pengujian 6.
No. Jumlah Gelas (buah) Daya (V.mA)
2 25
4 85
6 135
8 185
10 240
12 280
Pengujian Ketujuh
Pada pengujian ketujuh ini komposisi bahan dan gelas diperbesar. Tetapi jumlah gelas hanya 2 buah dengan volume masing-masing 1 liter.
Komposisi massa Blimbing Wuluh/gelas setelah di blender = 0,50 kg
Massa tanah liat/gelas = 1 kg
Dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 8. Hasil pengukuran pengujian 7.
No. Jumlah Gelas (buah) Daya (V.mA)
2 30
Pengujian Kedelapan.
Komposisi massa Blimbing Wuluh/gelas setelah di blender
= 0,15 kg.
Massa tanah liat/gelas = 0,30 kg
Dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 9. Hasil pengukuran pengujian 8.
No. Jumlah Gelas (buah) Daya (V.mA)
2 40
4 85
6 125
8 165
10 205
12 250
Gravik 3. Hubungan jumlah gelas dengan daya listrik.
Analisa
Pada table 1 dan 2 terlihat bahwa selisih daya yang dihasilkan antara tanah liat putih dan merah yaitu sebesar 35 V.mA pada gelas 12..
Pada pengujian kedua dengan variabel massa blimbing wuluh yang berbeda-beda dan massa tanah liat sama, diketahui campuran yang ideal antara tanah liat dan blimbing wuluh. yaitu ½ : 1, 1 : 1 dan 1 : 2.
Pada pengujian ketiga dengan variabel massa tanah liat yang berbeda-beda dan massa blimbing wuluh tetap, campuran yang ideal sama dengan pengujian ketiga.
Pada pengujian keenam dengan mengukur ulang pada hari berikutnya dengan diberi beban lampu 3 (V) tanpa dimatikan, hasilnya daya menurun dari 295 V.mA menjadi 280 V.mA
Pada pengujian ketujuh memperbesar volume gelas dengan jumlah gelas 2 buah daya yang dihasilkan Cuma 30 V.mA
Pada pengujian kedelapan dengan menambah komposisi tanah liat dan blimbing wuluh masing-masing 0,15 dan 0,30 kg daya yang dihasilkan 250 V.mA pada gelas 12.
BAB V
Kesimpulan Dan Saran
Kesimpulan
Setelah dilakukan pengujian maka penulis dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut :
Buah blimbing wuluh memang dapat menghasilkan energi listrik.
Besarnya energi listrik yang dibangkitkan tergantung pada komposisi antara buah blimbing wuluh dan tanah liat yang ideal dan banyaknya jumlah rangkaian.
Komposisi yang ideal antara blimbing wuluh dan tanah liat adalah ½ : 1, 1 : 1 dan 1 : 2 pada gelas volume 23 cm3.
Daya menurun dari 295 menjadi 280 V.mA setelah dipakai selama 1 x 24 jam dengan dengan beban 1 buah lampu tegangan 3 V pada gelas 12.
Saran
Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam melakukan penelitian sebaiknya dilakukan dalam kurun waktu yang lama, sehingga pengujian dapat diulang-ulang. Menggunakan alat dan bahan yang baik merupakan hal penting yang harus dipenuhi demi kelancaran penelitian. Memperbanyak data-data yang mendukung jalannya penelitian sebelum penelitian dilakukan, agar kegiatan berjalan dengan lancar.
home interior design, modern home interior design, modern home interior design 2011, modern home interior design ideas, modern home office,home interior decoration, home interior design, home interior design ideas, modern home interior design,home interior design, home theater interior design, Home theater interior design furniture, modern home theater interior, theater interior design.
Search This Blog
Saturday, 23 October 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Popular Posts
-
desain interior kamar mandi modern model kalimantan desain interior kamar mandi modern model kalimantan desain interior kamar mandi modern ...
-
Hand Made? Heart Made?..the same thing, I think. My hands are tools I use in daily life. Bearing scars of wounds that occur As I do the th...
-
Sumber : http://unic77.blogspot.com/2010/11/kasihan-gan-gmnyah-rasanya-kalo-hidup.html
-
Modern bathroom interior design jakarta model Modern bathroom interior design jakarta model Modern bathroom interior design jakarta model Mo...
-
desain interior kamar mandi modern model yogyakarta Modern bathroom interior design model yogyakarta Modern bathroom interior design model y...
-
minimalist bathroom interior design model yogyakarta minimalist bathroom interior design model yogyakarta minimalist bathroom interior desig...
-
The pattern of life now is much different due to crush of big city life, so there is a need to make the body relax, "said Imelda Akmal,...
-
Banyak orang yang beralih ke susu kedelai karena alergi terhadap laktosa, yang merupakan karbohidrat utama dalam susu sapi. Apa saja keunggu...

No comments:
Post a Comment