LAPORAN
PRATEK KERJA LAPANGAN
PEREBUSAN KELAPA SAWIT
DALAM STERILIZER ( PEREBUS )
PADA PROSSES PRODUKSI MINYAK SAWIT CPO DAN KPO
PTP Nusantara VII ( Persero ) Unit Usaha Bekri
Lampung Tengah
Disusun Oleh :
Asroni
06520391
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN
2009/2010
LAPORAN
PRATEK KERJA LAPANGAN
PEREBUSAN KELAPA SAWIT
DALAM STERILIZER ( PEREBUS )
PADA PROSSES PRODUKSI MINYAK SAWIT CPO DAN KPO
PTP Nusantara VII ( Persero ) Unit Usaha Bekri
Lampung Tengah
Disusun Oleh :
Asroni
06520391
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN
2009/2010
jl. kihajar dewantara no. 116 telp. ( 0725 ) 42445, 42454. fax. ( 0725 ) 42445
2009/2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat mengerjakan tugas kerja praktek serta dapat menyusun laporan kegiatan ini mengenai perebusan kelapa sawit dalam Sterilizer
( perebus ) pada prosses produksi minyak sawit CPO dan KPO yang ada di PTP Nusantara VII ( Persero ) Unit Usaha Bekri Lampung Tengah.
Kerja praktek ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi kurukulum pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammaiyah Metro, dengan harapan mahasiswa dapat belajar secara langsung di dunia kerja/industri untuk menambah bekal dan pendalaman ilmu khususnya yang berkaitan dengan Teknik Mesin.
Atas selesainya tugas kerja praktek ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Ir. Masykur, MM. selaku Dekan Fakultas Teknik.
2. Ibu Dra. S.ST. Chadidjah. M.Eng. selaku ketua jurusan Teknik Mesin.
3. Ibu Dra. S.ST. Chadidjah. M.Eng. selaku pembibing kerja praktek lapangan.
4. Pimpinan dan Staf Karyawan PTP N VII Bekri yang telah memberikan kesempatan kerj praktek.
5. Teman-teman mahasiswa Fakultas Teknik.
6. Semua pihak yang telah membantu tugas ini.
Penulis menyadari atas kekurangan alam penyususnan laporan ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini dan dapat memberikan manfaat. Terimakasih.
Metro, 2009
Penyusun
Asroni
Npm. 06520391
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pohon kelapa sawit terdiri dari 2 (dua) spesies yaitu Arecaceae atau famili Palma yang digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Pohon kelapa sawit Afrika, Elaesis Guineensis berasal Afrika Barat di antara Angola dan Gambia, sedangkan pohon kelapa sawit Amerika, Elaesis Oliefera, berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. kelapa sawit di Indonesia banyak ditanam kelapa sawit jenis Elaesis Guineensis.
Sejak zaman dahulu secara bertahap pemerintah terus meningkatkan pembangunan di bidang pertanian yang meliputi sektor pangan, perkebunan dan perikanan. Pembangunan pertanian diupayakan untuk meningkatkan hasil pertanian baik kualitas maupun kuantitas melalui perbaikan teknik budidaya, perluasan lahan pertanian serta pembangunan dan perbaikan sistem pengolahan hasil. Perkembangan pembangunan pertanian terus meningkat dan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga oleh pihak swasta dan rakyat yang ikut berperan serta dalam sektor perkebunan, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja yang akan mengurangi angka pengangguran di dunia khususnya di Indonesia.
Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat diandalkan, karena minyak yang dihasilkan memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan oleh tanaman lain. Keunggulan tersebut diantaranya memiliki kadar kolesterol rendah, bahkan tanpa kolesterol. Produksi perhektarnya mencapai 6 ton per tahun, bahkan lebih. Jika dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya (4,5 ton pertahun), tingkat produksi ini termasuk tinggi.Bagi Indonesia, tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumber perolehan devisa negara. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit. Semula tanaman kelapa sawit hanya diusahakan oleh perkebunan besar di Indonesia. Sejak tahun 1977-1978 pemerintah Indonesia bertekad mengubah situasi tersebut dengan mengembangkan pola perkebunan rakyat melalui sistem PIRBUN (Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan). Dalam konteks pembangunan dan pengembangan pertanian, dirasakan betapa perlunya tenaga-tenaga yang lebih spesifik, lebih berperan dan profesional serta terampil dalam menangani bidangnya masing-masing dengan karakter kepemimpinan dan mental yang baik
Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon dan ketinggiannya dapat mencapai 24 m. Bunga dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil, apabila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Agar kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai minyak secara maksimal, maka perlu dilakukan proses pengolahan kelapa sawit dari TBS (Tandan Buah Segar) hingga dihasilkan CPO (Crude Palm Oil). Hasil sebagi CPO dapat dimanfaatkan sebagai minyak goreng, sabun dan lilin. Dalam sistem pengolahan kelapa sawit, salah satu prosesnya adalah proses rebusan yang dilaksanakan pada stasiun rebusan.
1.2. Permasalahan
Yang menjadi permasalahan dalam kegiatan praktik ini yaitu : Seterilizer (perebus) yang di gunakan untuk merebus kelapa sawit sebelum di olah lebih lanjut pada proses pengolahan selanjutnya.
1.3. Tujuan Kerja Praktek
Adapun tujuan kerja praktek pada PTP N VII Unit Usaha Bekri ini antara lain :
a) Mengetahui proses pengolahan kelapa sawit dari Tandan Buah Segar (TBS) sampai menjadi minyak sawit (CPO).
b) Mengetahui proses perebusan kelapa sawit pada seterilizer (perebus)
1.4. Batasan Masalah
Agar pembahasan tidak melebar dan lebih tepat, maka penulis hanya membahas tentang Seterilizer (perebus) yang di gunakan untuk merebus kelapa sawit sebelum di olah lebih lanjut pada proses pengolahan selanjutnya di PTP Nusantara VII Unit Usaha Bekri.
1.5. Metode Pengumpulan Data
A. Metode interviu
Yaitu dengan terjun langsung ke pabrik dan mewawancarai petugas/operator masing-masing bagian pada saat proses pengolahan kelapa sawit.
B. Metode observasi
Yaitu dengan melihat langsung proses pengolahan kelapa sawit pada saat pabrik tersebut beroprasi.
C. Metode partisipasi
Yaitu melibatkan diri dalam aktifitas supaya memperoleh informasi yang tepat sesuai dengan yang kita inginkan.
D. Metode kepustakaan
Dengan memperbanyak buku-buku bacaan dari buku panduan dan mempelajari referensi yang ada di kantor Adm.
1.6. Metode Pembahasan Data
A. Deskriptif
Yaitu dengan cara membuat sketsa/gambaran secara sistematis dari fakta, karakteristik dan spesifikasi tertentu.
B. Interprestatif
Yaitu dengan wawasan dan ilmu menafsirkan masalah yang sedang dianalisa kemudian berusaha untuk mendapatkan kesimpulan.
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Sejarah Singkat PTP N VII Bekri
a) Perkebunan Bekri untuk pertama kalinya dibuka oleh Bangsa Belanda dengan nama Landbow Maatschappy Bekri Gevestigde ke Gravenhage yaitu pada tahun 1916, yang selanjutnya diberi nama INTERNATIO. I. Pada tahun 1923 Perkebunan ini mendirikan Pabrik dengan sistem "HAND PRESS".
b) Pada tahun 1942 - 1945, Perusahaan ini dimiliki oleh Bangsa Jepang, adapun peralihan Perusahaan dari Bangsa Belanda ke Bangsa Jepang adalah akibat kalah perang Bangsa Belanda terhadap Bangsa Jepang.
c) Pada tahun 1945 - 1948 Perusahaan ini diambil alih oleh Bangsa Indonesia,setelah Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan RI tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.
d) Pada tahun 1948 - 1958 Bangsa Belanda kembali ke Indonesia dan langsung mengambil alih Perusahaan dari Bangsa Indonesia, saat itu dan Perusahaan diberi nama INTERNATIO II
e) Tahun 1958 - 1961, Perusahaan di Nasionalisasikan dari Bangsa Belanda ke Bangsa Indonesia dan selanjutnya Perusahaan ini menjadi PPN KARET IX, yang selanjutnya Kantor Direksi berkedudukan di Tanjung karang /Lampung.
f) Tahun 1961 - 1964, PPN KARET. IX direkstrukturisasi kembali menjadi " PPN SUMATERA. II " yang Kantor Direksinya juga berkedudukan di Tanjung karang.
g) Tahun 1964 - 1968 Perusahaan ini diadakan penggolongan menurut jenis tanaman yang dikelola / di budidayakan, dengan sebutan PPN ANEKA TANAMAN.III "( ANTAN III )" sedangkan Kantor Direksinya berkedudukan di Sumatera Utara ( MEDAN ).
h) Tahun 1968 - 1980, Perusahaan ini diadakan kembali penggabungan berdasarkan wilayah, dan perkebunan ini diganti nama "PNP X", Kantor Direksinya berkedudukan di Tanjungkarang.
i) Pada tanggal 01 Juni 1980 PNP.X mendapat perubahan menjadi PT. Perkebunan X (Persero) dan Kantor Direksinya berkedudukan di jalanTeuku Umar Tromol Pos No : 74 Tanjung karang / Bandar Lampung, hingga saat ini.
j) Pada tahun 1994 tepatnya tanggal 29 Juni 1994, maka diadakan Resturkturisasi BUMN, maka PTP. X dan PTP. XXXI Gula dijadikan satu PT. Perkebunan.
k) Tepatnya pada peringatan hari Super Semar tanggal 11 Maret 1996, maka PT.Perkebunan X-XXXI (Persero) diubah menjadi " PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VII (PERSERO) " yang Kantor Direksinya tetap berkedudukan di jalan Teuku Umar Tromol Pos No:74 Tajung karang
2.2. PROFIL PERUSAHAAN
Dasar Hukum keberadaan PT Perkebunan Nusantara VII (Persero), Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996 dan Akte Pendirian Perusahaan oleh Notaris Harun Kamil, SH dengan akte Nomor 40 tanggal 11 Maret 1996.
PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) merupakan peleburan dari PTP X (Persero) dan PTP XXXI (Persero) ditambah dengan Eks Proyek PTP XI (Persero) di Lahat Sumatera Selatan dan Eks PTP XXIII (Persero) di Bengkulu.
a) Dewan Komisaris Dan Direksi Dewan Komisaris
- Komisaris Utama : Drs.Akmaluddin Hasibuan,MSc
- Komisaris : Prof.DR.Ir.M.Saleh S Ali,MSc
- Komisaris : Dr. Ir.Hasanudin Ibrahim S.Pi
- Komisaris : Harun Sulkan,SH
- Komisaris : Prof.Dr.Ir H Ahmad Anshori Mattjik
- Komisaris : Ir.Razali Ishak
b) Dewan Direksi
- Direktur Utama : Drs.Andi Punoko Ak
- Direktur Produksi : Ir.Erwin Nasution
- Direktur Keuangan : Ir.Boyke Budiono,MBA
- Direktur SDM/Umum : Ir.Mardjan Ustha,MM
- Direktur Pemasaran : Ir.Gatot Bintoro,MM
c) Kantor Direksi
JL. Teuku Umar No. 300 Bandar Lampung
Telp.(0721) 702233, Fax. (0721) 702775
d) Dasar Hukum HGU
1) Permohonan HGU Nomor : X.6/234/6192/71 tanggal 10 Mei 1971 dan Nomor : X.6/607/7872/1978 tanggal 12 Desember 1978
2) Persetujuan Pemberian HGU berdasar SK. Mendagri No. SK.11/HGU/DA/81 tanggal 06 Januari 1981
3) Pemberian HGU berdasar SK Mendagri No:6/HGU/BPN/99 tgl.26 Januari 1999
4) Pemberian Sertifikat HGU No:U.53 tahun 2002 tanggal 17 Juli 2002
e) Topografi
Areal Unit Usaha Bekri pada umumnya dataran dengan kemiringan rata-rata 5 meter terletak pada ketinggian 48 – 62 meter diatas permukaan laut dengan iklim B, curah hujan rata-rata 2000 - 2500 mm, hari hujan 50 – 150 HH. Jenis tanah Latosal Aluvial dan Padsolik Merah Kuning. (Data curah hujan, hari hujan dan defisit air terlampir
f) Luas Areal HGU
g) Manajer Unit Usaha Bekri Dari Tahun 1959 – 2008
h) Jumlah Tenaga Kerja
i) Areal Tanaman Kelapa Sawit Unit Usaha Bekri
j) Realisasi Produksi Tanaman Tahun 2008
k) Pencapaian Produksi Tanaman Uu Bekri Dalam 5 Tahun
A. PABRIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT (PPKS)
Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS) fase I dibangun pada tahun 1978 dengan kapasitas 30 ton TBS/Jam ( 1 Line ) dan pada tahun 1987 dilaksanakan peningkatan kapasitas menjadi 40 ton TBS/Jam (2 Line). Bahan baku Tandan Buah Segar (TBS) berasal dari kebun sendiri, kebun seinduk, kebun kemitraan, Pembelian dan KSO.
REALISASI PRODUKSI PPKS BEKRI (TON)
Bulan TBS DiOlah Prod MS Prod IS
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
Januari 14.272.000 12.281.000 3.115.000 2.705.962 666.000 493.080
Februari 13.583.000 10.291.000 2.954.000 2.267.228 632.000 381.190
Maret 12.726.000 13.004.000 2.764.000 2.884.656 593.000 515.610
April 14.169.000 13.801.000 3.078.000 2.997.145 659.000 649.220
Mei 15.009.000 12.326.000 3.263.000 2.713.112 698.000 585.160
Juni 15.585.000 9.581.000 3.393.000 2.111.793 728.000 350.928
Juli 16.392.000 7.522.000 3.572.000 1.640.855 764.000 301.760
Agustus 16.712.000 4.619.000 3.646.000 908.632 781.000 186.980
September 17.470.000 5.654.610 3.818.000 1.134.822 822.000 229.980
Oktober 21.695.000 16.172.000 4.741.000 3.379.177 1.014.000 687.310
November 21.937.000 14.341.000 4.806.000 3.025.566 1.031.000 603.062
Desember 21.090.000 11.325.730 4.604.000 2.317.340 984.000 469.230
Jumlah 200.640.000 130.918.340 43.754.000 28.086.288 9.372.000 5.453.510
Prosentase real terhadap target (%) 65 64 58
1. Realisasi Rendemen Produksi PPKS Bekri Tahun 2008
RENDEMEN MS + IS (%)
Bulan Rend M S Rend I S
Target Real Target Real
Januari 21,83 22,03 4,67 4,01
Februari 21,75 22,03 4,65 3,70
Maret 21,72 22,18 4,66 3,97
April 21,72 21,72 4,65 4,70
Mei 21,74 22,01 4,65 4,75
Juni 21,77 22,04 4,67 3,66
Juli 21,79 21,81 4,66 4,01
Agustus 21,82 19,67 4,67 4,05
September 21,85 20,07 4,71 4,07
Oktober 21,85 20,90 4,67 4,25
November 21,91 21,10 4,7 4,21
Desember 21,83 20,46 4,67 4,14
s/d 21,81 21,45 4,67 4,17
Real terhadap target (%) 98,4 89,2
*Keterangan : Data Desember 2008
TARGET PRODUKSI PPKS BEKRI 2008
TBS
(Ton) MINYAK SAWIT
(Ton) Inti Sawit
(Ton) Rendemen MS
(%) Rendemen IS
(%)
200.640 43.754 9.372 21,81 4,67
2. Jumlah TBS Di Olah Dalam 5 Tahun ( Ton )
TBS DI OLAH (TON)
Uraian 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Beki 30.604 39.938 32.558 42.033 45.482 60.139
Patu 36.680 57.861 31.908 48.804 33.904 32.657
Kemitraan 8.862 11.839 8.156 - - -
Pembelian 683 1.821 4.107 9.638 25.257 38.122
KSO 42.258 64.302 63.456 79.924 25.808 -
Suli 2.029 -
Total TBS diolah 119.087 175.761 140.185 180.399 132.480 130.918
Jumlah Jam Olah (Jam) 2775,25 4315,3 3464,40 4605,1 3619,5 3935,5
Kapasitas Pabrik(Ton/Jam) 42,91 40,73 40,46 39,17 36,60 34,92
Efisiensi Pabrik (%) 107,28 101,82 101,16 97,93 91,50 87,55
*Keterangan: Data Desember 2008
3. Pencapaian Produksi PPKS Bekri Dalam 5 Tahun
B. LABORATORIUM
Laboratorium di PPKS Bekri berfungsi sebagai pengawasan mutu produksi dari Pabrik pengolahan kelapa sawit dan sebagai Barometer Kinerja Pabrik. Apakah mutu produksi CPO maupun PKO dapat tercapai atau belum sesuai yang diharapkan. Oleh karena itu semua yang menyangkut mutu maupun efisiensi Pabrik, bertolak ukur kepada analisa Laboratorium.
1. Pengendalian Limbah Cair Dengan Cara Land Application
(Izin Menteri Lingkungan Hidup No:Kep.04-05/MEN.LH/I/1998 - Perpanjangan izin L.A / No : 660/03/D.5/DU.IPLC/I/2008)
Limbah yang dihasilkan oleh pengolahan kelapa sawit diproses di kolam An Aerob dan dipompakan ke areal tanaman kelapa sawit sebagai pupuk cair. Aplikasi areal seluruhnya di pupuk di Afdeling II, pada blok 741, 742, 743, 781, 783 dan 784 seluas = 69,3 Ha.
Areal Tanaman Kelapa Sawit yang di aliri limbah cair di Afdeling II
2. Pengelolaan Limbah Padat
a) Limbah Padat dari pengolahan TBS dapat dibedakan menjadi Tandan Buah Segar (Tankos) dan sludge.
b) Tankos dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk untuk tanaman menghasilkan (TM) dengan cara Tankos disusun disetiap gawangan. Disamping itu, tankos juga dapat dijadikan pupuk untuk Tanaman Ulang (TU) dengan cara dimasukan pada lubang tanaman ulang.
C. PENGHARGAAN DARI PEMERINTAH
Dengan sistem pengelolaan limbah yang ramah lingkungan ini PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Bekri mendapatkan beberapa penghargaan dari pemerintahan setempat secara berturut-turut sebagai perusahaan pengelola lingkungan hidup terbaik dan mendapatkan peringkat Biru.
D. PROGRAM KEMITRAAN KELAPA SAWIT
Konsep kemitraan yang menjadi dasar pelaksanaan merupakan upaya kerja sama yang berazaskan saling menguntungkan secara berkesinambungan. Langkah pilihan yang strategis yakni melalui pengembangan komoditas kelapa sawit dengan program, antara lain : pengalihan tehnologi terapan, kemandirian pengelolaan agribisnis, memberi peran berfungsinya kelembagaan ekonomi pedesaan dan meningkatkan pasokan bahan baku olah pabrik. Kontribusi PTPN VII (Persero) dalam melaksanakan program kemitraan ini adalah berupa bantuan pengadaan bibit kelapa sawit yang berkualitas.
1. Sejarah Kemitraan Kelapa Sawit Di UU Bekri
Program Kemitraan kelapa sawit di Kabupaten Lampung Tengah dimulai pada tahun 1993 yaitu sebagai kelanjutan usaha Kemitraan, antara PTPN VII (Persero) (dahulu PTPX) Unit Usaha Bekri dengan KUD Rukun Tani Jaya, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Bangun Rejo.Upaya ini diawali dengan keinginan pengurus KUD Rukun Tani Jaya yang mewakili 124 orang petani anggotanya untuk mengembangkan lahan pertanian mereka melalui metode tumpang sari tanaman pangan dengan tanaman kelapa sawit seluas 248 Ha.
Melihat dampak positif dari pengembangan kelapa sawit pola kemitraan tersebut, Pemda Lampung Tengah cq, Dinas Perkebunan Lampung Tengah segera menyambut baik rencana lanjutan ini, sehingga disusunlah suatu program pengembangan kelapa sawit dengan pola kemitraan bagi petani disekitar Kabupaten Lampung Tengah.
Sesuai dengan program Pemerintah Daerah Lampung Tengah tentang kerja sama kemitraan untuk pengembangan tanaman kelapa sawit antara Pemda Lampung Tengah dengan PTPN VII (Persero) yang dituangkan dalam surat nomor X.9/KTR/01/1995 dan surat nomor 525.26/0503/D.4/1995 tanggal 4 April 1995, maka disepakati bahwa pengembangan kelapa sawit didaerah Lampung Tengah seluas 3.000 Ha yang dimulai sejak tahun 1995 selama periode 3 tahun mendatang, dengan setiap tahun ditanam seluas 1.000 ha.
2. Komposisi Areal Kemitraan
BAB III
STERILIZER ( PEREBUS ) PADA PROSSES PRODUKSI
Dalam sistem pengolahan kelapa sawit, salah satu prosesnya adalah proses rebusan yang dilaksanakan pada stasiun rebusan. Proses rebusan kelapa sawit dilakukan dengan proses tekanan uap air. Variabel yang berperanan penting dalam proses rebusan ini adalah jumlah buah kelapa sawit dan tekanan uap air dalam Sterilizer (salah satu bagian dari stasiun rebusan). Semakin besar buah kelapa sawit mendapat tekanan uap air untuk waktu tertentu, semakin cepat terjadi pemasakan.
3.1. Fungsi dan Tujuan Perebusan TBS.
a) Menonaktifkan enzym-enzym (lipase) yang dapat menyebabkan kenaikan ALB, karena enzym lipase non aktif pada suhu 45 derajat celcius.
b) Memudahkan proses pelepasan fruitlet (brondolan) dari janjang
c) Melunakkan fruitlet, sehingga memudahkan pemisahan antara daging buah dan biji pada proses digestion dan depericarper.
d) Mengkondisikan daging buah, sehingga sel minyak dapat terlepas untuk diekstraksi di stasiun press dan dimurnikan di stasiun klarifikasi.
e) Mengurangi kadar air pada biji, sehingga memudahkan pemecahan dan menaikkan efisiensi pemecahan.
Seluruh tahapan pengolahan kelapa sawit dapat digambarkan seperti
Gambar berikut :
Bagan Seluruh Tahapan Pengolahan Kelapa Sawit
Keterangan:
1. Boiler
2. Back Preassure Vessel (BPV)
3. Sterillizer
4. Safety Valve
5. Pembuangan Uap
6. Manometer
7. Thermometer
8. Sistem Kendali Perebusan
9. Lori
3.2. Spesifikasi Sterlizer
a) Sterlizer no : 1
- Kapasitas : 20 Ton
- Merk : NR.SD.1280
- Tahun : 1978
- Jumlah : 3 Unit
b) Sterlizer no : 2
- Kapasitas : 20 ton
- Merk : NR.SD.1280
- Tahun : 1978
- Jumlah : 3 Unit
c) Sterlizer no : 3
- Kapasitas : 20 Ton
- Merk : NR.SD.1280
- Tahun : 1978
- Jumlah : 3 Unit
d) Sterlizer no : 4
- Kapasitas : 20 Ton
- Merk : NR.SD.1280
- Tahun : 1985
- Jumlah : 1 Unit
e) Sterlizer no : 5
- Kapasitas : 20 Ton
- Merk : NR.SD.1280
- Tahun : 1987
- Jumlah : 1 Unit
f) Sterilizer Pump Kondensat
- Kapasitas : 10m /jam
- Merk : Warman
- Tahun : 1987
- Jumlah : 1 Unit
- Rpm : 1430
- Daya : 15 HP
- Arus : 20 Ampere
Ukuran Masing-Masing Sterilizer
- Panjang : 24.390 mm
- Diameter : 2100 mm
- Tekanan Uap : 2,5-3 kg/Cm
- Temperatur uap : 135 - 140 C
- Tebal plate : 14 mm
- Plate : BS 15
- Jenis : Doble The Door
3.3. Spesifikasi Lori
- Jumlah : 82 unit
- Kapsitas : 2,5 Ton
- Panjang : 2.400 mm
- Lebar : 1.200 mm
- Tinggi : 1.200 mm
- Diameter As Roda : 50 mm
- Panjang As Roda : 900 mm
- Diameter Roda : 280 mm
Proses Perebusan
Pada perebusan terjadi pengeringan pendahuluan dari biji dan inti mulai lekang dari biji. Pelepasan uap dengan cepat dari rebusan akan menguapkan sebagian air buah, sehingga buah menjadi lemah dan minyak mudah diperas dari dalamnya pada waktu pengempaan. Kemudian perebusan yang dilakukan dengan tekanan uap 2,8 kg/cm2 dan waktu antara 80-90 menit merupakan yang paling optimal karena menghasilkan minyak dan inti yang memuaskan, selain itu proses perebusan juga perlu dilakukan pengurasan udara agar udara bisa keluar dan digantikan oleh uap air sebagai media perebusan.
No comments:
Post a Comment