Search This Blog

Saturday, 31 October 2009

makalah al islam



BAB I
PENDAHULUAN

Ajaran Islam telah lama menunjukkan cahaya kebajikannya untuk menerangi kehidupan umat manusia. Islam menorehkan sejarah (hingga saat ini dan masa-masa yang akan datang) dengan tinta emas kemulyaan ajaran-Nya. Tak terhitung lagi pengakuan dengan intan permata tentang tingkah laku (akhlak) yang baik. Dari kondisi aman hingga perang besar, dari anak-anak hingga yang tua, dari siang hingga malam, perjalanan Islam tak pernah lepas dari ketinggian akhlak, keluhuran budi, keindahan krama, kemulyaan jiwa. Karena memang akhlak ditempatkan dalam posisi yang sangat tinggi. Dengan akhlak kita bisa mengetahui jati diri seseorang. Bak sebuah kendi air yang hanya akan mengeluarkan/memuntahkan apa-apa yang ada didalamnya, bila didalam berisi air keluarlah air, bila kopi keluarlah kopi, dan bila susu maka susulah yang akan keluar darinya. Kita tidak pernah dapat melihat sebelumnya isi dari kendi namun kita bisa melihat apa yang dikeluarkannya. Begitulah akhlak.
















BAB II
PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN AKHLAK

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “ Akhlaaq”, bentuk jama’ dari kata “Khuluk” yang berati tabiat, watak, perangai, dan budi pekerti. Al Ghazali memberi batasan sebagai berikut : “Khuluk adalah hal ikhwal yang melekat dalam jiwa, darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan diteliti”. Jadi akhlak ada dua macam akhlak baik dan akhlaq buruk. Tentunya dibutuhkan parameter atau ukuran-ukuran akhlak itu dikatakan baik atau buruk. Dari sini timbul pertanyaan tentang sumber-sumber akhlak.

B. SUMBER-SUMBER AKHLAK

Rasulullah saw diutus dengan tugas menyempurnakan budi pekerti dan membina akhlak, seperti dinyatakan dalam hadist: Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Bukhori dalam adab Al Mufrad). Perilaku Rasulullah saw sendiri berpola pada wahyu Allah yaitu Al Qur’an. Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah, “ Sesungguhnya akhlak Rasulullah itu adalah Al Qur’an “(HR Muslim). Hadist tersebut menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan sumber utama dan pertama bagi akhlak. (QS 68:4). Selanjutnya selain Al Qur’an, sumber lainnya adalah Sunnah Rosul. Manusia juga mendapatkan karunia dari Allah berupa hati nurani yang dapat membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk, sebagai mana diriwayatkan dalam Hadits Nabi riwayat Ahmad bahwa pada suatu hari seorang sahabat bernama Wabishah bertanya kepada Nabi tentang al-birr (kebaikan) dan al-itsm (dosa, keburukan), yang kemudian diberi jawaban oleh Nabi SAW : “Hai Wabhisah, bertanyalah kepada hati nuranimu sendiri: kebaikan adalah sesuatu yang jika kau lakukan jiwamu merasa tenang, hati nuranimu pun merasa tenteram, sedang keburukan adalah sesuatu yang jika kau lakukan jiwamu bergejolak dan hati nuranimu pun berdebar-debar, meskipun orang banyak memberi tahu kepadamu (lain dari yang kau rasakan)”
C. HATI NURANI SEBAGAI SUMBER AKHLAK

Hati nurani sebagai sumber akhlak menimbulkan pertanyaan tersendiri dari aspek terjamin tidaknya sebab dalam diri manusia juga terdapat hawa nafsu yang memiliki potensi besar membawa kearah keburukan, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Asy Syam ayat : 7 –10 yang mengajarkan : Artinya :“ Demi jiwa dan yang menyempurnakannya : (Allah) mengilhamkan padanya (jalan) kejahatan dan kebaikan: sungguh berbahagialah orang yang mensucikannya, dan sungguh gagallah orang yang mengotorinya”.

Jadi agar hati nurani selalu hidup, suaranya harus selalu nyaring terdengar, pemiliknya harus selalu menyucikan jiwanya, mendekatkan diri kepada Allah. Hati nurani yang selalu hidup sajalah yang dapat menjadi sumber nilai akhlak sebagaimana yang diajarkan dalam hadist di atas. Tidaklah cukup hanya mengetahui makna akhlak yang baik dan akhlak yang buruk tetapi yang penting adalah mengamalkan dan mempraktekkan akhlak yang mulia. Mempelajari akhlak tidak cukup dengan iImu melainkan hasil pembinaan dan latihan yang terus menerus (istimroriyyah). Membentuk akhlak yang baik tidaklah cukup karena bisa atau mampu tetapi mesti karena biasa (habit/kebiasaan). Akhlak yang baik bukan hanya kata-kata yang indah, menarik dan menyenangkan orang yang dikemas dengan gaya retorika yang memukau, melainkan harus disertai keikhlasan. Jika tidak demikian, akhlak tersebut akan menjadi tipuan dan rayuan yang berbahaya.]

Posisi akhlak tidak seperti halnya kesenangan atau keme¬wahan. Tetapi, akhlak adalah nama dari suatu prinsip hidup. Islam telah menyebut¬kan satu demi satu semua kebajikan dan prinsip-prinsip akhlak, di samping telah menganjurkan para pengikutnya untuk menjadi¬kan akhlak sebagai bagian dan kehidupannya. Jika kita mengum¬pulkan semua ucapan Nabi Muhammad saw. tentang betapa pen¬tingnya watak akhlak yang baik, maka berjilid-jilid buku harus disiapkan, tidak terhitung jika dikaitkan dengan ucapan-ucapan yang harus diperbaiki. Sebelum kita menyebutkan kebaikan-kebaikan itu satu per¬satu, dan pernyataan yang lebih detail, akan lebih baik jika kita kutip beberapa contoh yang memperlihatkan betapa kuat dan kesungguhan Islam dalam memperhatikan watak akhlak yang baik bagi umatnya. Usamah menyatakan, “Kami tengah duduk-duduk bersama Rasulullah saw., begitu heningnya sehingga tak seorang pun ber¬usaha untuk membuka pembicaraan. Tidak berapa lama, seseorang telah datang dan bertanya, di antara hamba Allah, siapakah gerangan yang paling dikasihi, ya Rasulullah? Rasulullah saw. menjawab, “Seseorang yang mem¬punyai akhlak terbaik!” (Ibnu Hiban).

Hadits lain mengatakan, mereka bertanya, Apakah yang ter¬baik yang diberikan kepada manusia? Rasulullah saw. menjawab, “Karakter akhlak terbaik.” (at-Tirmidzi)
Rasulullah saw. bertanya, “Muslim manakah yang paling ber¬takwa?” Rasulullah saw. menjawabnya sendiri. “Orang yang memiliki akhlak terbaik.” (ath-Thabrani)

Abdullah bin Anwar mencenitakan sebagai berikut:
Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Haruskah saya mengatakan siapakah di antara kalian yang paling mendekatiku dan pada hari pengadilan kelak paling dekat denganku?” Beliau mengulangi pertanyaan tersebut sampai dua atau tiga kali. Orang¬-orang kemudian mernohon agar Rasulullah saw, menerangkan tentang orang-orang yang dimaksud. Kernudian Rasulullah saw. menjawab, “Dialah di antara kalian yang paling berakhlak. “(Ahmad)
Dalam hadits lain, Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Pada Hari Pembalasan tidak ada yang lebih berat timbangan¬nya danipada akhlak yang balk. Allah tidak menyukai orang yang berkata keji, dan orang yang membawa akhlak yang baik akan mencapai derajat orang yang melaksanakan shalat dan menjalani shaum karena akhlaknya itu. “(H.R. Imam Ahmad).

Tidak ada yang mengejutkan jika ajaran ini datang dan seorang ahli filsafat yang sangat sibuk mengkampanyekan pembaruan akhlak. Tetapi, kejutan terbesar karena ajaran ini datang dari se¬orang yang berusaha keras menegakkan suatu ajaran keimanan yang baru, sementara agama lain mengalihkan perhatian hanya terhadap bentuk-bentuk penyembahan dan pemujaan. Rasul terakhir telah berseru kepada umatnya untuk melakukan berbagai bentuk ibadah dan juga menegakkan suatu pemerintahan yang ter¬bentuk dalam perjuangan dan pertempuran-pertempuran yang panjang dengan sejumlah musuh. Di samping itu, meluaskan ajaran dan meningkatkan berbagai tugas dan para pengikutnya. Rasulul¬lab saw. menyampaikan suatu fakta bahwa pada hari akhirat kelak, tak ada timbangan yang paling berat kecuali watak akhlak yang paling baik. Realitas ini tidak disembunyikan, bahwa di dalam Islam, nilai akhlak sangatlah tinggi.

Rasulullah saw. menekankan secara sungguh-sungguh pninsip yang tak ternilai, sehingga umatnya akan mengerti dengan jelas bahwa nilai-nilai akhlak tidak akan berubah.Anas mencenitakan sebagai berikut: Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Seorang hamba sahaya dapat rneningkat derajatnya dengan cara berkelakuan yang baik, jujur untuk selamanya, walaupun ía lemah atau kurang dalam melakukan ibadah. Tetapi jika ia berwatak kasar, maka ía akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam yang paling dalam”. (Ath-Thabrani)

Abu Hurairah telah menukil ucapan Rasulullah saw. sebagai berikut: “Kemuliaan seorang Mu’min ditentukan oleh ketaatannya akan agama, tenggang rasa adalah intelegensinya dan keturunannya adalah watak yang baik.” (al-Hakim)
Untuk menyuburkan dan mengembangkan akhlak yang baik di antara para pengikutnya, maka sang pemimpin harus berakhlak lebih baik dibandingkan para pengikutnya. Rasulullah saw. adalah contoh teraik dan akhlak mulia yang harus diteladani, yang memang ia serukan kepada umatnya. Sebelum Ia menasihati agar berakhlak baik dalam peri kehidupan, beliau telah menaburkan benih-benih akhlak yang luhur dengan cana melakukannya sendiri.

Abdullah bin Umar berujar, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuat kasar dan bersikap buruk. Beliau selalu bersabda bahwa orang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak terbaik.” (Bukhari)
Anas mengatakan, “Saya mendampingi Rasulullah saw. selama 10 tahun. Beliau tidak pernah berkata “uh” (ungkapan tidak senang) dan tidak pernah bertanya kepadaku mengapa saya ber¬buat ini atau itu.” (Muslim)
Juga diriwayatkan olehnya, “Ibuku selalu mencium (merangkul) tangan Rasulullah saw., kapan pun ia inginkan. Jika seseorang datang kepadanya dan berjabat tangan, Rasulullah saw. tidak pernah melepaskannya sampai orang tersebut melepaskan genggamannya, dan beliau tidak pernah memalingkan mukanya dan seseorang, sebelum orang tersebut memalingkan atau menundukkan muka. Dan dalam suatu pertemuan, beliau tidak pernah tampak bersila sehingga lututnya Iebih ke depan dibandingkan yang lainnya.” (at-Tirrnidzi) Siti ‘Aisyah berkata, “Jika ada dua alternatif yang harus dipilih Rasulullah saw., (maka beliau) akan rnemilih alternatif yang paling mudah, asal tidak ada dosa dalam alternatif tersebut. Jika ada pekerjaan yang mengandung dosa, maka beliau akan menjauhinya sejauh-jauhnya.”
Rasulullah saw. tidak akan pernah menentang seseorang secara pribadi. Jika perintah Allah dilanggarnya, maka beliau akan sangat murka. Rasulullah saw. tidak pernah memukul dengan tangannya, tidak terhadap istri-istrinya, tidak pula terhadap pelayannya. Memang, beliau selalu bertempur dalam suatu peperangan di jalan Allah. (Muslim)

Anas menuturkan sebagai berikut: “Ketika saya sedang berjalan dengan Rasulullah saw., beliau terperangkap cadar yang tebal di tubuhnya. Seorang Arab menarik cadar tersebut terlalu keras, sehingga bahunya terlihat olehku: saya sangat tersinggung karena¬nya. Si Arab tersebut kemudian berkata, “Ya Muhammad, berilah aku bagianku dan kekayaan yang diberikan Allah kepadamu.” Rasulullah saw. berpaling padanya dan tertawa, kemudian beliau memerintahkan aku agar memberikan sumbangan padanya”. (al ¬Bukhari)

Siti ‘Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah ber¬kata, Allah adalah Maha Pemurah, Dia menyukai kemurahan dan memberikan ganjaran atas kemurahan itu, dan tidak untuk keba¬likannya (kekasaran). Tetapi lebih dari itu, sejumlah ganjaran tidak beliau berikan untuk sesuatu. (Muslim)
Menurut hadits lain diceritakan sebagai berikut; kelembutan dalam hal apa pun akan menjadi indah karenanya, dan jika kelem¬butan dicampakkan, jadilah jelek karenanya.
Jarir menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:“Imbalan atas kelembutan hati tidak Dia berikan untuk kebodoh¬an; Manakala Allah menghendaki seorang budak menjadi kekasih¬Nya, Dia berikan kelembutan. Keluarganya yang menerima kelem¬butan ini akan memperoleh kebajikan.” (ath-Thabrani) Abdullah bin Hanits telah meriwayatkan bahwa Ia tidak pernah melihat orang lain yang lebih banyak tersenyum dibandingkan Rasulullah saw. (at-Tirmidzi)
Siti ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa yang diperbuat Rasu¬lullah saw. selama beliau berada di rumahnya. Siti ‘Aisyah men¬jawab, Beliau selalu dilayani orang-orang di rumahnya, dan jika tiba saatnya shalat, beliau selalu menganibil air wudhu’ dan pergi ke luar untuk shalat. (Muslim) Anas telah menuturkan, “Rasulullah saw. adalah orang terbaik di antara seluruh manusia. Saya mempunyai seorang kakak angkat yang bernama Abu Umair. Ia mempunyai penyakit yang disebut naghir. Rasulullah selalu membesarkan hatinya dan menyapanya, “Wahai Abu Umair, apa yang terjadi dengan “naghirmu?” (al-Bukhani) Dan kebiasaan dan perilaku Rasulullah saw., salah satu yang paling terkenal adalah ia benan-benar seorang philantropik, yaitu mencintai kemanusiaan. Beliau tidak kikir dalam segala hal. Beliau sangat pemberani dan besar hati. Beliau tidak pernah berpaling di dalam kebenaran. Beliau mencintai kebenaran dan keadilan. Dalam setiap mengambil keputusan, beliau tidak pernah licik dan menim¬bulkan ekses atau tidak adil. Dalam seluruh kehidupannya, beliau selalu benar, jujur, dan terpercaya.

D. ASPEK-ASPEK AKHLAK

Melihat sekian banyak contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa akhlak meliputi segala hal. Seluas ajaran Islam itu sendiri. Akhlak yang tinggi bukan hanya ditujukan kepada sesama umat Islam, tetapi meliputi segala hal. Akhlak kita kepada Allah, Rosul, diri sendiri, keluarga, orang tua, anak, teman, tetangga, makhluk hidup yang lain, lingkungan, dsb. Berikut ini beberapa aspek akhlak :

1. Akhlak terhadap Allah. Secara garis besar disebutkan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah (Q.S. 51 : 56). Beribadah kepada Allah berciri tunduk, taat , dan patuh atas dasar cinta kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Melaksanakan hidup sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah.
2. Akhlak terhadap Rasulullah. Akhlak kita terhadap Rasulullah akan sendirinya kita ketahui, pahami, dan selanjutnya kita amalkan bila kita telah mengenalnya (ma’rifat). Diantara akhlak utama kepada junjungan kita tersebut adalah membenarkan apa yang dibawa, taat kepada apa yang diperintahkan, menjauhi apa yang dilarang.
3. Akhlak terhadap Diri. Akhlak terhadap diri atau pribadi merupakan pemenuhan kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri. Hak-hak jasmani dan ruhani harus dipenuhi. Memberikan makanan dan minuman yang halal dan baik , berolahraga dengan teratur, istirahat dengan cukup adalah beberapa hal yang terkait dengan akhlak terhadap jasmani kita. Menuntut ilmu, aktif di kajian-kajian islam, dzikir merupakan beberapa contoh pemenuhan kebutuhan rohani.
4. Akhlak terhadap Manusia. Lemah lembut dan kasih sayang (QS Al Maidah(5) : 54) terhadap sesama muslim serta bersikap tegas kepada orang kafir (QS Al Maidah(5) : 51) merupakan akhlak penting ketika bergaul dengan makhluk sesama manusia. Namun tentunya masih banyak lagi yang harus kita perhatikan. Tentunya ada perbedaan antara berakhlak kepada ayah, ibu, adik, teman, tetangga, dan istri. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Adalah sangat tidak tepat kita berakhlak kepada orang tua disamakan akhlak kita kepada adik atau teman kita.
5. Akhlak terhadap Lingkungan. Akhlak terhadap lingkungan tidak hanya terkait dengan pemanfaatan potensi sumber daya alam, dimana didalamnya terkait dengan masalah eksplorasi, pelestarian dan pengembangan sumber daya alam. Namun juga akhlak kita terkait dengan masalah interaksi sosial, hubungan kemasyarakatan. Seperti kita selaku mahasiswa dengan lingkungan disekitar tempat kita tinggal (kost). Kepedulian terhadap lingkungan dimana kita berada menunjukkan akhlak kita kepadanya. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi lingkungannya.
6. Akhlak Profesi. Yang dimaksudkan disini adalah pedoman-pedoman akhlak yang ditujukan kepada pemegang pekerjaan di bidang tertentu dalam tingkat apapun. Semua aktivitas profesi harus dan pasti mempunyai nilai-nilai etik (kode etik). Misalnya dokter, dosen/guru, pegawai negeri, pengacara, hakim dan sebagainya. Allah dalam An-Nahl ayat 90 memerintahkan agar orang berbuat adil dan ihsan. Yang berarti menjalankan profesi dengan ikhlas, jika haknya memang menerima imbalan jasa hendaklah menuntut yang menjadi haknya. Motif kerjasama dan tolong menolong hendaknya mendasari setiap pelaksanaan profesi apapun. Menjalankan tugas dengan profesional merupakan akhlak yang diruntut bagi setiap pengemban amanah.
Pengertian akhlaq secara terminologis menurut :
a) Imam Ghozali :
الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر ورؤية.
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran maupun pertimbangan?.
b) Ibnu Maskawaih :
الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر وروية .
Akhlaq adalah gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tidak membutuhkan pikiran?.
b) Menurut Ahmad Amin :
الخلق عادة الإرادة
Khuluq (akhlaq) adalah membiasakan kehendak?.

Dari berbagai definisi diatas, definisi yang disampaikan oleh Ahmad Amin lebih jelas menampakkan unsur yang mendorong terjadinya akhlaq yaitu ?adah : kebiasaan dan iradah : kehendak. Jika ditampilkan satu contoh proses akhlaq adalah ;

1) Dalam ?adah; - harus ada kecenderungan untuk melakukan sesuatu, - terdapat pengulangan yang sering dikerjakan sehingga tidak memerlukan pikiran.
2) Dalam iradah: a) lahir keinginan-keinginan setelah ada rangsangan (stimulan) melalui indra-indranya b) muncul kebimbangan, mana yang harus dipilih diantara keinginan-keinginan itu. Padahal harus memilih satu dari keinginan tersebut. c) mengambil keputusan dengan menentukan keinginan yang diprioritaskan diantara banyak keinginan tersebut.
Contoh : Pada jam 2 siang seorang berangkat ke pasar untuk mencari bengkel motor untuk membeli kampas rem. Di saat memasuki lorong gang, ketika menoleh ke arah kanan melihat warung makan yang penuh sesak dan kepulan bau nikmat yang ia hirup. Sesaat kemudian melihat arah kiri, terdapat es cendol yang laris dibeli orang. Padahal orang tersebut sudah lapar dan haus. Sementara di arah depan kelihatan mushalla yang nampak bersih dan dilihat hilir mudik orang sembahyang. Kemudian orang tersebut menentukan shalat terlebih dahulu karena mempertimbangkan jam yang sudah limit. Kesimpulan yang dipilih oleh orang tersebut setelah banyak mempertimbangkan beberapa keinginan disebut iradah. Jika iradah tersebut dibiasakan setiap ada beberapa keinginan dengan tanpa berpikir panjang karena sudah dirasakan oleh dirinya maka disebut akhlak. Sebaliknya ada seorang kaya, mendengarkan pengajian Da?i kondang menjelaskan hikmah infaq. Orang itu kemudian tertarik dan secara spontan memberikan uang satu juta rupiah untuk didermakan. Orang tersebut belum termasuk dermawan, karena pemberiannya ada dorongan dari luar. Orang tidak termasuk ramah tamu jika ia senang membeda-bedakan tamu yang datang. Dengan demikian akhlaq bersifat konstan (tetap-selalu) spontan, tidak temporer dan juga tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.
Disamping akhlaq ada istilah lain disebut etika dan moral masing-masing bahasa Latin. Tiga istilah diatas sama ?sama menentukan nilai baik dan buruk sikap perbuatan seseorang. Bedanya akhlaq mempunyai standar ajaran yang bersumber kepada al-Qur?an dan Sunnah Rasul. Etika berstandar kepada akal pikiran, sedangkan moral bersumber kepada adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat. Dalam penggunaan kata-kata tersebut kadang-kadang terjadi tumpang tindih, seperti Hassan Shadily menggunakan istilah moral sama dengan akhlaq.

1. Sumber Akhlaq

Ukuran yang dapat menentukan perbuatan itu dianggap baik ? buruk, mulia atau tercela dalam akhlaq adalah Al-Qur?an dan Sunnah Rasul. Bukan akal pikiran dan adat kebiasaan, seperti dalam etika dan moral dan bukan pula baik dan buruk ditentukan dengan akal dengan sendirinya menurut faham Mu?tazilah. Sifat-sifat baik (terpuji) dituntun dalam syara? seperti sabar, syukur, pema?af, pemurah dan jujur, sebaliknya sifat ?sifat congkak, dendam, kikir, dusta adalah sifat-sifat yang dicela oleh syara?. Dengan demikian syara? berperan untuk menuntun ajaran tersebut.
Apakah fitrah (hati nuirani), akal dan kebiasaan masyarakat dapat dijadikan ukuran baik ? buruk, terpuji ? tercela satu perbuatan. Fitrah tidak serta merta dapat dijadikan dasar untuk menentukan baik ? buruk, tercela ?terpuji suatu perbuatan, karena ia adalah potensi dasar yang dimiliki seseorang yang tidak selalu terjamin berfungsi dengan baik. Sebab dapat dipengaruhi dari luar, seperti pengaruh pendidikan dan lingkungan. Akal juga bagian dari salah satu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan dan menghindari keburukan dari pengalaman empiris, tapi bersifat spekulatif dan subyektif. Kebiasaan masyarakat (pandangan masyarakat) dapat menentukan baik-buruk suatu hal, tetapi sangat relatif, karena akan tergantung pada kemurnihan dan kejernihan pikiran mereka. Karena itu cara untuk menentukan baik-buruk, terpuji ? tercela yang mentukan hanya ajaran Al-Qur?an dan Sunnah Rasul saw.

2. Ruang Lingkup Akhlaq

Abdullah Dr�z dalam buku Dustur al-akhlaq fi al-Islam membagi ruang lingkup akhlaq lima macam ;
1) الأخلا ق الفرد ية = akhlaq perorangan. Akhlak ini dibagi menjadi
a) Semua hal yang diperintahkan 9al-awamir)
b) Segala yang dilarang ( al-nawahi)
c) Hal-hal yang diperbolehkan ( al-munahat) dan
d) Akhlak dalam keadaan darurat al-mukhalafah bi al-idhthirar).
2) الأخلا ق الأ سرية = akhlak keluarga; terbagi menjadi
a) kewajiban timbal bail orang tua dan anak (wajibat nahwa ushul wa al-furu?)
b) kewajiban suami ? isteri ( wajibat baina al-azwaj)
c) kewajiban terhadap kerabat dekat ((wajibat nahwa al-aqarib).
3) الأخلا ق الإجتماعية = Akhlak bermasyarakat, meliputi a) hal-hal yang dilarang (al-makhdzurat) b) hal-hal yang diperintahkan (al-awamir) dan c) kaidah-kaidah adab (qawa?id al-adab).
4) الأخلاق الد و لة = Akhlak bernegara meliputi ; a) hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-?alaqah baina al-rais wa al-sya?b) b) hubungan luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
5) الأخلا ق الد ينية = Akhlak beragama; kewajiban terhadap Allah swt.

Ruang lingkup di atas dipandang sangat luas karena mencakup semua aspek kehidupan. Secara vertikal hubungan dengan sang Haliq dan secara horizontal dengan sesama manusia. Jika ruang lingkup akhlak tersebut dipersempit tetapi memiliki cakupan yang menyeluruh maka akhlak tersebut dapat dibagi menjadi ;
a) Akhlak (tata krama) kepada Allah swt.
b) Akhlak kepada Rasul Allah saw.
c) Akhlak untuk diri pribadi.
d) Akhlak dalam keluarga.
e) Akhlak dalam masyarakat.
f) Ahlak bernegara.















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sesungguhnya akhlak agama ini bersumber dari akidahnya dan akidah tersebut sebagaimana kita ketahui bersumber dari kedalaman, dan kemapanan yang di mana akhlak itu sendiri dapat memberikan kekuatan dan komprehensif, sebagaimana juga mampu membebaskan dari sifat munafiq, ria dan dusta. Setiap akhlak dalam Islam berkaitan erat dengan tujuan Islam itu sendiri, tujuan tersebut adalah Iman kepada Allah dan hari akhir (kiamat), tujuan inilah yang menjadi motivasi agar kita dapat menempuh jalan yang lurus. Allah s.a.w berfirman:
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)Ku, aku dan orang-orang yang mengikuti-ku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. 12:108).
Apabila akhlak ini adalah Risalah akhir yang telah mencakupi semua agama dan seluruh akhlak para Nabi Allah, maka ini menjadi tugas Rasulullah s.a.w untuk menyampaikan agama yang sempurna ini, sabda baginda s.a.w: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”. Dari sinilah bahawa agama menjadi sebuah metoda akhlak, dan akhlak adalah agama dengan segala yang terdapat di dalamnya, bukan sesuatu yang asing atau terpisah sama sekali.





B. Saran
Marilah kita senantiasa memelihara ahklak. keluhuran akhlak merupakan pendidikan yang bersih, mengubah dunia dari kekeliruan kepada kebenaran, dari kegelapan kepada cahaya dari kesesatan kepada hidayah (petunjuk). Seolah-olah misi agama yang telah merancang jalannya dalam sejarah kehidupan serta pembawa misi tersebut telah berupaya penuh untuk menyebar sekaligus menghimpun manusia di bawah cahayanya, tidak lebih hanya untuk mencantumkan keluhuran akhlak mereka dan membuka cakerawala kesempurnaan di hadapan mata mereka, sehingga mereka melangkah dengan kejernihan jiwa (bashirah). Kemudian seluruh isi jagat raya akan berpadanan secara indah dengan pujian unik yang Allah SWT sematkan kepada Nabi yang agung Muhammad S.A.W


No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Blog Archive

Followers

My Ping in TotalPing.com